{[['
']]}
Kalau kata orang - orang 14 februari adalah hari kasih sayang , tapi tidak demikian dengan AREMANIA.
Ibarat sebuah pohon, semakin tinggi pohon yang dipelihara Aremania, maka semakin kencang angin bertiup. Aremania terlahir tanpa noda, namun dalam perjalanannya aral dan onak seperti kerikil-kerikil yang dilalui di jalan tak beraspal. Salah satu kerikil tersebut adalah chaos dalam sebuah pertandingan bola.
Seperti halnya Aremania, selama dua dekade lebih berdiri memang telah memberi warna baru dalam dunia sepakbola tanah air. Nyaris, tidak ada event besar yang tidak memberi ruang gerak kepada Aremania. Ibaratnya, Aremania adalah bintang utama dari sebuah teater di gelaran sepakbola Indonesia.
Konflik pertamakali yang melibatkan nama Aremania adalah peristiwa Kerusuhan di Stadion Mandala Krida Jogjakarta yang terjadi pada 14 Februari 1999 silam. Terlepas dari faktor eksternal penyebab kerusuhan ini yang berupa provokasi dari pihak luar, issue yang berhembus dan lain sebagainya, ada banyak hal yang dapat kita ambil hikmah dari kejadian ini. Terlebih selama 14 tahun berikutnya peristiwa tersebut terulang dengan melibatkan Aremania kedalam pihak lain.
Awal kejadian, Terjadi keributan antar pemain dan wasit kurang tegas dalam mengambil keputusan. Hal ini berawal ketika salah seorang pemain Arema memukul Official PSIM hingga jatuh. Kejadian ini memicu amarah penonton dan pertandingan sempat di hentikan beberapa kali. Bahkan kalau ngga salah pertandingan di lanjutkan sampai jam 9 malam.
Pada waktu terjadi keributan antar pemain tidak disangka dari sisi timur stadion, seorang suporter PSIM masuk kelapangan dan memukul pemain Arema (ga iling sopo sing di lukup), dan dimulailah sebuah perkelahian saat suporter arema juga turun lapangan dan saling serang dengan suporter tuan rumah. Saat keributan salah seorang Supporter tuan rumah sempat mengambil Bendera kebesaran Aremania dan membakarnya.
Karena suasana panas yang tidak mereda, aparat lalu mengeluarkan suporter PSIM terlebih dahulu, alhasil Aremania terkurung dalam lapar dan gelap karena lampu Stadion Mandala Krida yang mulai dipadamkan. Dalam keadaan gelap kami sempat membuat tulisan “AREMA”, di Rumput Stadion dengan menggunakan potongan besi pagar Stadion dan lain2.
Di luar stadion, suporter PSIM semakin menggila, kami di lempari dari luar bahkan salah satu aremaniai sempat kena batu nggak tau lemparan atau pake ketapel (boso jowone plintheng) bahkan sebuah bus (milik Aremania atau pemain Arema) dibakar massa di halaman stadion. Menurut cerita Kuswanto suasana begitu mencekam (dia cerita sewaktu di Balikpapan) Aparat kepolisian kewalahan menanganinya, masih menurut ceritanya (soale ayas ndek njero Stadion) waktu itu sampai ada polisi yang masuk-masuk kampung melarang masyarakat keluar rumah hingga situasi aman ( Sam kuswanto jare kolem ndek supporter PSIM tapi kadit kolem ngantemi/malah mikirne ayas karo nawak2 sing sempat nginep ndek hamure)
Akhirnya Sri Sultan HB X pun turun tangan meredakan emosi Supporter, serta memberi makan nasi bungkus kepada Aremania yang masih terkurung di dalam stadion. Kalau ga salah waktu itu Subuh kami dipulangkan dengan sisa bus yang ada dan beberapa truk polisi hingga stasiun prambanan. Dan dari sana dinaikkan kereta barang menuju Kota Malang. Sampai sekarang suporter PSIM belum pernah bertemu lagi dengan suporter Arema, meski sekitar tahun 2006/2007 pernah bertemu, tetapi sepakat tidak saling mengirimkan suporter. Semoga kejadian ini tidak menimbulkan dendam yang berkepanjangan, masalah di tengah lapangan adalah tanggung jawab panpel dan Official itu sendiri, karena kalau kita ikut2an bertindak bukan masalah akan selesai malah sebaliknya akan menjadi runyam.
.jpg)